JEJAK PEMBERDAYAAN DI TANAH PINOH
JEJAK PEMBERDAYAAN DI TANAH PINOH
Diawal rutinitas di pagi hari, ketika perjalanan panjang itu dimulai. Pada 17 November 2025, Tim Pemberdayaan CU Lantang Tipo Pak Eka, Pak Ade, dan Pak Bidon—meninggalkan Kantor Pusat menuju Kantor Cabang Tanah Pinoh. Perjalanan darat selama kurang lebih sembilan jam membentang di hadapan: jalan berliku, hutan yang rapat, dan sesekali hamparan kebun masyarakat menjadi saksi langkah kecil menuju misi besar—memberdayakan anggota.
KC Tanah Pinoh berdiri di bagian barat Kabupaten Melawi. Di sinilah cerita tentang kerja keras dan harapan tumbuh bersama tanah dan keringat para petani dimulai.
Menyapa Tunas Harapan di Desa Bata Luar
Keesokan harinya, 18 November 2025, perjalanan berlanjut ke Desa Bata Luar. Di wilayah ini, tiga Kelompok Usaha Binaan (KUBn) telah menanam mimpi mereka melalui kebun kelapa sawit: yaitu kelompok Tunas Baru Sawit, Colak Mengawan Mandiri, dan Citra Sawit Mandiri.
Pertemuan berlangsung sederhana, di salah satu rumah anggota. Didampingi staf KC Tanah Pinoh, Bapak Karnidi, tim duduk melingkar bersama para petani. Tak ada sekat. Yang ada hanya cerita.
Tentang tanah yang subur.
Tentang hujan yang kadang datang tak menentu.
Tentang hama yang menguji kesabaran.
Tentang harapan panen di masa depan.
Diskusi evaluasi RAB dan rencana kerja berubah menjadi ruang berbagi pengalaman. Waktu berjalan tanpa terasa—dua jam berlalu begitu saja.
Namun petualangan sesungguhnya dimulai ketika kaki menapak tanah kebun.
Dari Kebun Terjauh, Menuju Harapan Terdekat
Disepakati, kebun yang paling jauh menjadi tujuan pertama. Komite KC, Bapak Fransesko, turut mendampingi perjalanan.
Kebun milik Ibu Asnawati menjadi pemberhentian awal. Tanaman tumbuh sesuai fase, pemeliharaan berjalan baik. Namun di antara daun-daun muda, ditemukan serangan hama semut yang merusak pucuk. Di sinilah pendampingan menjadi penting—bukan sekadar melihat, tetapi memberi solusi.
Perjalanan berlanjut ke kebun Bapak Sukarmen. Kontur tanah yang baik dan lahan yang relatif baru membuat kebun ini tampak rapi dan menjanjikan. Jika semua berjalan sesuai rencana, pertengahan 2026 akan menjadi momen panen perdana—buah dari ketekunan hari ini.
Petualangan berikutnya membawa tim ke kebun Bapak Benediktus Atem. Di sini, sawit tumbuh berdampingan dengan padi. Sistem tumpang sari menjadi strategi cerdas—memanfaatkan lahan selagi sawit belum menghasilkan. Sebuah gambaran nyata tentang kreativitas dan ketahanan petani.
Menjelang pukul 16.00 WIB, langkah-langkah kembali menuju KC Tanah Pinoh. Hari itu ditutup dengan rasa lelah yang terbayar oleh semangat anggota yang tak pernah padam.
Nanga Lunsut: Semangat Baru di Tanah Baru
Pagi berikutnya, pukul 08.00 WIB, perjalanan dilanjutkan ke Desa Nanga Lunsut. Hanya sekitar 30 menit dari KC, namun setiap desa memiliki cerita yang berbeda.
Didampingi staf KC, Bapak Wihelmus Deni, tim disambut hangat oleh Koordinator Wilayah, Bapak Yeskhel, bersama enam anggota kelompok. Mereka adalah para perintis—baru memulai termin pertama penanaman.
Pertemuan di rumah Korwil berlangsung penuh antusiasme. Wajah-wajah penuh harap mendengarkan arahan, berbagi cerita tentang kebun yang baru ditanam, dan merancang langkah ke depan.
Tak lama kemudian, rombongan bergerak menuju kebun. Jalan menuju beberapa lahan cukup menantang—tiga di antaranya bahkan jauh dari kampung dengan akses terbatas. Namun kabar baik datang: perusahaan yang berbatasan dengan lahan mereka berencana membuka akses jalan pada 2026.
Di tengah ladang yang masih muda itu, tim memberikan pendampingan tentang pemupukan awal. Setiap butir pupuk yang ditabur seakan menjadi simbol komitmen: bahwa pertumbuhan tak hanya terjadi pada tanaman, tetapi juga pada kapasitas dan kepercayaan diri anggota.
Lebih dari Sekadar Kunjungan
Menjelang pukul 14.30 WIB, kunjungan di Nanga Lunsut selesai. Setelah makan bersama, tim kembali ke KC Tanah Pinoh, sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya ke KC Ella Hilir.
Petualangan ini bukan sekadar perjalanan fisik menembus jarak. Ini adalah perjalanan membangun keyakinan—bahwa CU Lantang Tipo hadir bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi sebagai sahabat dalam proses bertumbuh.
Di Tanah Pinoh dan Nanga Lunsut, benih-benih sawit telah ditanam.
Namun yang lebih penting, benih semangat, kebersamaan, dan kemandirian juga telah disemai.
Dan jejak pemberdayaan itu akan terus berlanjut, dari satu desa ke desa lainnya, dari satu Kantor Cabang ke Kantor Cabang Lainnya.
(CULT)